Tas Ransel

04 Okt 2017

Waktu ibu mertua membuka harta karunnya berupa kain jadul (baca :beres-beres), beliau cerita, dulu saat Bapak (mertua alm) masih bekerja, banyak yang mengungkapkan rasa terimakasih dengan memberikan hadiah, salah satunya kain ini yang bisa digunakan untuk membuat baju safari ataupun jas. Saya tanya kok gak dijahit, Mah? ibu mertua menjawab, baju bapak sudah kebanyakan. Kenapa gak dikasihkan ke orang lain? katanya lagi, sayang, tapi kalau ke menantunya kayanya gak sayang …hahaha, terbukti itu kain semuanya diserahkan kepada saya.
Cuma sedikit galau karena bahannya yang tebal (katanya sih bahan wool, saya buta kain, jadi gak hapal jenis kain secara detail) dan sedikit kasar (ini opini saya saja).  Di jahit untuk baju kayanya gatal. Selain itu, kalaupun dijahit (ke tukang jahit), warna dan serat kain terlihat banget pemuda tahun 70an (membayangkan suami yang pake :)) ).

Sampai  beberapa bulan, kain tersebut masih terlipat rapi, tak tersentuh. Sampai suatu hari, saya lihat tutorial dari Umi Fidh, membuat simple backpack.  Jadi  pengen nyoba, tapi itu juga maju mundur karena melihat contohnya cantik banget. Tapi, sudahlah saya mau coba dengan kain jadul ini (karena yang ada cuma ini #nangisdipojokan).

Jangan tanya berapa kali dedel, karena itulah seninya …hahaha #ngeles. Tapi, saya pribadi puas dengan hasilnya karena ternyata ranselnya muat banyak. Cukuplah buat bawa peralatan anak alakadarnya + cemilan, payung, dan botol air minum. Tapi, kayanya kalau bikin ransel lagi, pingin bikin strap shoulder nya yg tebel biar lebih nyaman.

Untuk bagian saku depan, gara-gara salah potong, yang harusnya lurus jadi melengkung #tepok jidat. Di bagian belakang saya tambahkan satu kantong  untuk menyimpan uang atau barang berharga (halagh…apaan sih). Soalnya kalau pakai  ransel terus harus gendong anak kadang keamanan barang terlupakan , jadi harus ada tempat aman untuk menyimpan uang cadangan #thepowerofemak2 .

Terimakasih Umi Fidh untuk torialnya ^_^

tas_ransel

 

Iklan

Self Reminder

03 Okt 2017

Suka kagum sama orang-orang yang bergelut dalam bidang craft dan tidak hanya memikirkan keuntungan saja. Mereka berbaur dengan alam, menghargai sesama, mereka tidak mengekplorasi sumber daya dengan membabi buta, tapi memikirkan kedepannya, keberlangsungan hidup untuk generasi selanjutnya.

Syal & Topi Bunga

14 Mar 2017

Dapat pesanan dari seorang teman di dunia maya itu rasanya kaya es campur, senang campur deg-degan campur bingung, sekali sruput langsung pingsan.

Dulu, jaman blog lagi booming, saya berteman dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah saya kenal, bertemu pun tidak. Salah satunya teman saya ini, Novieta Tourisia. Sejujurnya dari dulu saya suka sekali dengan tulisan-tulisannya dan karyanya yang sekarang tertuang di cinta bumi artisans.
Nah, wajar kan yang tadi saya bilang rasanya jadi kaya es campur.

Novie memesan syal bunga & topi untuk putrinya, Bhumi. Jangan tanya berapa lama ya…hahaha, karena berhubung banyaknya iklan seperti TV swasta  saat pengerjaan (baca : anak-anak yang selalu sibuk) jadinya prosesnya lebih lama dari target. Dan, beruntung bagi saya, Novie mau bersabar (maafkaaan…)

Motif bunga pada topi saya ambil disini

topi_bunga

topi bunga

Terimakasih pada Novie yg telah mengijinkan saya  untuk memajang foto Bhumi.

bhumi dgn topi kupluknya

bhumi  yang selalu tersenyum 🙂

 

syal_bunga

syal bunga

Satu hal yang saya pahami bahwa setiap produk handmade yang dibuat adalah dikerjakan dengan rasa cinta. Itulah yang membedakannya dengan produk massal.

Selamar beraktivitas ! 🙂

Dompet

25 Feb 2017

Percobaan kedua dalam membuat dompet…
Penuh perjuangan karena harus melewati dedel mendedel (kelihatan banget gak pro-nya :D) kemudian inner yang terlalu tebal yang menyebabkan susah dalam proses menjahit yang akhirnya  satu lapisan di kurangi.

Beginilah hasil akhirnya

dompet_krem

Puas? gak terlalu …soalnya belum rapi  :D. Silahkan di coba lagi … (udah kaya undian aja).

Rompi Bunga

14 Des 2016

Akhirnyaaa…bisa juga update blog setelah sekian lama tak terurus. Maklumlah sekarang ini banyak asisten yang siap membantu walau tak disuruh (baca : anak-anak yang lagi lucu-lucunya).

Tapi, kalau ibu sendiri yang minta dibuatkan, sepertinya tidak ada alasan untuk menolak walaupun waktu pengerjaannya lama pake banget. Setelah mencari-cari referensi dari bentuk dan motif akhirnya pilihan jatuh ke buku karyanya Thata Phang , “Kreasi Rajutan Cantik” dengan sedikit modifikasi di bagian edging dan size (maaf agak bingung  cari padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, bukan gaya-gayaan … hehehe).

Dan… ibu saya pun suka dengan hasilnya … (lega deh!)

rompi

 

 

%d blogger menyukai ini: